Wisata Unik Desa Bayung Gede Bali dan Seramnya Gantungan Ari-ari

Wisata desa bayung gede Bali dan seramnya gantungan ari-ari menjadi keunikan baru yang ada di Pulau Dewata. Tidak hanya wisata pantai dan penginapan yang cantik, Bali juga memiliki wisata unik berupa tradisi menggantung ari-ari yang dilakukan oleh masyarakat Desa Bayung Gede, Kintamani, Bangli, Bali.

Meskipun lokasinya terletak tidak jauh dari Desa Panglipurna yang sudah terkenal dengan destinasi wisatanya, namun pengunjung di sini ternyata belum sebanyak Desa Panglipurna.

Wisata Desa Bayung Gede Bali

Desa yang masih termasuk dalam kabupaten Bangli merupakan salah satu desa kuno yang masih menjalankan tradisinya hingga saat ini.

Tradisi yang sudah dijalankan sejak dahulu kala dan masih dijaga oleh penduduk Desa Bayung Gede yaitu tradisi menggantung ari-ari bayi yang baru lahir.

Meskipun terdengar menyeramkan, namun ternyata lokasi penggantungan ari-ari yang terletak pada lahan luas dengan ditanami pohon kayu bukak ini sama sekali tidak menyeramkan, bahkan dijadikan wisata unik bagi para pelancong yang ingin mencoba wisata baru di pulau dewata Bali.

Lahan Desa Bayung Gede Bali dan seramnya gantungan ari-ari ini diberi nama setra ari-ari oleh penduduk setempat.

Setra yang berarti kuburan dalam bahasa Bali dimana Kamu bisa menemukan banyak sekali batok kelapa yang digantung pada pohon kayu bukak berisi ari-ari bayi baru lahir disana.

Batok kelapa yang berisi ari-ari harus diberi nama terlebih dahulu sebelum digantungkan.

Prosesi pemberian nama ini dilakukan untuk menghindari terjadinya bentrok nama pada pemilik ari-ari tersebut dengan ari-ari yang akan digantungkan setelahnya.

Tradisi ini diyakini sebagai metode spiritual yang harus dilakukan agar bayi diberikan perlindungan sehingga terhindar dari penyakit maupun makhluk halus dan bisa tumbuh dengan baik hingga dewasa.

Tradisi gantung ari-ari berkaitan erat dengan sejarah terbentuknya Desa Bayung Gede ini sendiri, sehingga kelangsungan ritualnya masih dijaga hingga saat ini.

Dikisahkan manusia pertama yang hidup di Desa Bayung Gede terlahir dari tued, yaitu kayu yang sudah dipotong dan hanya tersisa pangkalnya saja yang kemudian dihidupkan oleh Tirta Kamandalu (Kera Putih) yang merupakan putra dari Bhatara Bayu.

Oleh karena itu ari-ari bayi baru lahir dipercaya harus digantungkan pada batang kayu sebagaimana dikembalikannya kehidupan ke asalnya.

Sedangkan bagi penduduk Desa Bayung Gede yang tidak melakukan tradisi ini akan langsung dikenakan denda berupa membayar 200 keping uang bolong dan melakukan pembersihan pada sekitar lahan dimana ari-ari tersebut dikubur.

Upacara ini dikenal dengan nama Upacara Masayut dan sebagai bentuk dari penyucian kembali lahan tersebut.

Lahan yang digunakan untuk mengubur ari-ari dianggap leteh atau kotor dan akan menimbulkan pengaruh buruk pada lahan tersebut, sehingga upacara Masayut harus dilakukan agar lahan kembali suci.

Prosesi Tradisi Unik

Tradisi gantung ari-ari tidak sembarangan dilakukan, namun harus dengan berbagai ritual khusus yang wajib diikuti. Berikut ini merupakan langkah-langkah prosesi ritual penggantungan ari-ari yang dilakukan penduduk Desa Bayung Gede 

Hal pertama yang harus dilakukan setelah bayi lahir adalah membersihkan ari-ari yang akan digantung. Pembersihan ari-ari ini harus dibersihkan menggunakan air tawar bersih dan dilakukan hingga tidak ada lagi sisa kotoran ataupun darah yang tersisa.

Setelah itu pangkas batok kelapa menjadi dua bagian dan bersihkan sisa-sisa air kelapa beserta serabutnya hingga tidak tersisa sebagai wadah ari-ari yang akan digantung.

Jika tempurung sudah siap, ari-ari akan dimasukkan ke dalamnya kemudian ditutup dengan rapat menggunakan kapur sirih sebagai perekatnya. Setelah tempurung tertutup rapat, kemudian diikatkan dengan tali bambu.

Ketika memasukkan ari-ari biasanya akan disertai dengan pensil, sobekan kertas maupun tikar, bunga mawar, ketumbar atau merica, kapur sirih, jeruk nipis hingga terung.

Benda-benda ini dipercaya bisa menjaga bayi tetap hangat, harum dan tumbuh menjadi pribadi yang baik dan cerdas.

Prosesi selanjutnya ketika menjalankan tradisi Desa Bayung Gede Bali dan seramnya gantungan ari-ari adalah membawa batok kelapa berisi ari-ari tersebut ke lokasi pohon kayu bukak.

Prosesi membawa ari-ari ini harus dilakukan oleh laki-laki, jika ayahnya berhalangan boleh digantikan dengan anggota keluarga lain yang berjenis kelamin laki-laki.

Laki-laki yang membawa ari-ari tersebut harus mengenakan pakaian adat, lengkap dengan senjata tajamnya yaitu sabit.

Jaman dahulu kala, lokasi pohon Bukak berada di hutan, sehingga sabit digunakan untuk memotong ranting pohon bukak dan juga sebagai alat pembela diri jika binatang buas menyerang.

Sejak keluar dari rumah hingga sampai pada lokasi pohon Bukak, ari-ari harus dipegang menggunakan tangan kiri.

Setelah sampai hutan, tangan kanan menebas ranting pohon Bukak yang akan digantungi ari-ari menggunakan sabit. Saat sudah sampai di pohon Bukak, ari-ari harus dipegang dengan tangan kanan untuk menggantungnya.

Setelah ari-ari sudah digantung, sang ayah atau anggota keluarga yang membawa ari-ari tersebut harus mengambil kayu bakar dalam perjalanan kembali ke rumah jika bayi yang baru lahir adalah bayi laki-laki.

Sedangkan jika bayinya berjenis kelamin perempuan, sang ayah harus membawa tumbuhan paku yang dapat dijadikan sayuran.

Setelah sampai di rumah, sang ayah harus menyampaikan barang yang dibawa tersebut kepada sang bayi.

Hal ini dianggap sebagai simbol kekuatan dan kecerdasan bagi sang bayi dalam pengelolaan hidupnya kelak setelah dewasa.

Selama perjalanan membawa ari-ari hingga sampai pada lokasi pohon bukak, pembawa ari-ari tersebut dilarang berinteraksi dengan siapapun.

Dilarang berbicara, tengak-tengok dan juga tertawa. Jika interaksi tersebut dilakukan, masyarakat khawatir membuat bayi yang baru lahir akan memiliki sifat plin-plan, tidak fokus pada tujuan dan berbagai hal buruk lainnya.

Pantangan lainnya pada tradisi Desa Bayung Gede Bali dan seramnya Gantungan ari-ari, pembawa ari-ari atau siapapun dilarang memotong pohon di sekitar lokasi menggantung ari-ari untuk kepentingan pribadi.

Jika pantangan ini dilakukan, yang melakukan pelanggaran tersebut akan mendapat sangsi berupa menanam pohon dengan jenis yang sama seperti pohon yang ditebang tersebut. Area penggantungan ari-ari ini dianggap sebagai area keramat.

Penggantungan ari-ari dilakukan di pohon Bukak bukan tanpa sebab, pohon Bukak memiliki buah yang terbuka ketika matang sehingga menyerupai bentuk alat vital wanita dan dianggap sebagai ibu saudara dari sang bayi yang akan mengasuh ari-ari (saudara) tersebut dari berbagai macam gangguan gaib.

Bentuk buah yang terbuka tersebut menjadi alasan pohon ini dinamai Pohon Bukak.

Meskipun ari-ari digantung, tetapi tidak menimbulkan bau sedikitpun. Hal ini dikarenakan pohon Bukak mampu meredam bau-bauan tersebut sehingga tidak menyebar.

Lokasi Desa Bayung Gede Bali

Untuk mengunjungi desa ini, Kamu bisa lewat Jalan Payangan-Kintamani atau Jalan Bangli-Kintamani. Sedangkan dari pusat kota, yaitu Denpasar, desa ini berjarak sekitar 55 kilometer atau 35 kilometer dari pusat Kota Bangli.

Jika Kamu melakukan perjalanan dari Denpasar menggunakan kendaraan pribadi, Kamu harus menempuh perjalanan selama 1,5 jam hingga 2 jam.

Sedangkan untuk memasuki dan menikmati wisata ini kamu tidak dikenakan biaya tiket masuk karena wisata ini belum dikelola secara resmi untuk kegiatan pariwisata.

Akhir Kata

Bali memang memiliki segudang tradisi unik dan menarik yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Kalau kamu mungkin biasanya hanya mengunjungi wisata pantai, gunung, ataupun danau, maka kamu bisa mengunjungi tempat wisata unik Desa Bayung Gede di Bali dan melihat gantungan Ari-ari di tempat tersebut.

Tinggalkan komentar